Blackjack Technique_Online Baccarat Platform_U.S. online gambling_Best Baccarat Betting Method

  • 时间:
  • 浏览:0

Riset yWorld World BooWorld Bookmaker Rankingkmaker Rankingbookmaker Rankingang diterbitkan di jurnaWorld Bookmaker Rankingl Science, menyebutkan kemungkinan pandemi ini akan jadi pandemi musiman. Kalau kata riset itu, ada indikasi Covid-19 ini mirip sama wabah virus corona yang sudah-sudah. Jika benar begitu, pandemi Covid-19 harusnya mereda di musim panas, walau nggak hilang sepenuhnya. Lalu besar kemungkinan kalau pandemi ini akan “kambuh” lagi saat musim dingin datang.

Kabar kalau physical distancing berlangsung sampai 2022 ini sifatnya masih berupa “kemungkinan”. Tentunya bakal lain cerita kalau vaksin sudah berhasil ditemukan (setidaknya bisa bantu menghambat persebaran virus lebih masif, perkara virusnya bermutasi kayaknya bisa jadi urusan belakang, ya nggak sih?), atau fasilitas kesehatan diperbanyak lagi. Namun, walau masih belum pasti 100%, banyak pakar yang nyuruh kita siap-siap atau setidaknya lebih menerima kalau kondisi kayak gini tuh besar kemungkinan bakal jadi “the new normal“; rajin cuci tangan, selalu pakai masker tiap pergi-pergi, atau menghindari kerumunan yang sangat padat. Pertanyaannya, siapkah kita semua menerapkan gaya hidup seperti itu, sampai batas waktu yang sulit ditentukan? Kayaknya, siap nggak siap kudu siap sih…

Physical distancing memang perlu dilakukan lebih lama lagi jika mengingat kapasitas perawatan rumah sakit saat ini masih sangat terbatas. Bahkan di negara yang katanya adidaya kayak Amerika Serikat, rumah sakit dan tenaga medis betul-betul kewalahan menghadapi pasien corona yang terus meningkat. Angka kasus dan kematian karena Covid-19 di sana saat ini jadi yang tertinggi di dunia. Kalau physical distancing berhenti dilakukan, bukan nggak mungkin jumlahnya jauh lebih besar.

Tapiii…

Kira-kira, seperti itulah rasanya menghadapi virus yang terus bermutasi.

Virus yang menyebabkan Covid-19 ini memang berasal dari “keluarga” yang sama dengan virus penyebab penyakit SARS. Tapi meski begitu, virus corona yang sekarang tergolong jenis baru. Makanya, walau sudah melanda dunia sejak kurang lebih 4 bulanan lalu, masih banyak ketidakpastian terkait virus ini. Peneliti dan ilmuwan di seluruh dunia masih terus melakukan riset yang hasilnya pun bisa berubah-ubah.

Sebagian dari kalian mungkin mulai bertanya-tanya, kapan kira-kira imbauan untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah ini diberlakukan. Karena nggak bisa dimungkiri, perasaan bosan dan capek luar biasa mulai terasa memasuki satu bulan karantina massal ini. Nggak sedikit orang mulai rindu sekolah, bekerja di kantor, atau beribadah di rumah-rumah peribadahan. Ada juga yang kangen nongkrong sama teman-teman di kafe favorit.

Pengembangan vaksin terhambat via tirto.id

Meski beberapa jenis vaksin untuk virus corona sedang melalui tahap uji coba, tapi nggak bisa dimungkiri kalau pengembangan obat maupun vaksinnya memang rada terkendala karena virus yang terus bermutasi. Anggap aja virus corona ini adikmu yang bandelnya minta ampun. Ortumu terus mencari cara gimana biar adikmu ini bisa lebih gampang diatur. Awalnya, mungkin dengan cara menerapkan denda, tiap dia melakukan kesalahan, uang sakunya dipotong. Tapi lama kelamaan, adikmu menemukan celah lain untuk mengulang kembali kesalahannya, entah dapet inspirasi dari internet, atau dipengaruhi lingkungannya. Akhirnya, sistem denda tadi nggak mempan lagi. Ortumu kembali harus memutar otak gimana biar adikmu tobat.

Masih ingat nggak, dulu waktu awal-awal virus ini merebak di Cina, peneliti bilang kalau pasien yang pernah terinfeksi dan sembuh, kemungkinan nggak akan bisa terjangkit lagi di kemudian hari. Beberapa waktu setelahnya, ternyata argumen itu terbantahkan oleh kasus seorang “mantan” pasien yang kembali terinfeksi virus yang sama. Kondisi itu bisa jadi disebabkan oleh sifat virus yang terus bermutasi. Menurut ahli epidemiologi UI, Pandu Riono, virus Covid-19 memiliki materi genetik berupa RNA. Umumnya, virus sejenis itu punya mutation rate yang tinggi dibandingkan virus DNA, bakteri, atau protozoa.

Pertanyaan besar di atas rupanya telah dijawab oleh sekelompok peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health. Mungkin rada kurang enak didengar, soalnya menurut jurnal yang baru saja mereka terbitkan, kemungkinan physical distancing atau jaga jarak fisik akan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Tentu aja argumen mereka itu diperoleh berdasarkan fakta-fakta terkait Covid-19 sejauh ini. Kirain-kira apa saja sih alasannya? Simak uraian lengkapnya bareng Hipwee!