Baccarat play and rules_Live Casino_Baccarat Computer

  • 时间:
  • 浏览:0

PSports betting WilliSports betting WilliSports betting William Hillam Hillam Hillada Jumat lalu, Sports betting William Hillkabut asap yang terjadi akibat karhutla yang terjadi di beberapa titik mengakibatkan jarak pandang sangat menurun hingga hanya mencapai 200 meter saja.

Baru-baru ini, banyak beredar foto mengerikan dari Kota Riau yang menjelma bak neraka karena diselimuti asap dan juga kabut tebal sepanjang harinya. Hal tersebut akhirnya mengundang banyak perhatian dari masyarakat hingga warganet untuk membombardir linimasa dengan kejadian tersebut. Pasalnya, ini bukan kali pertama yang terjadi di Indonesia dengan kejadian serupa.

Meski diberitakan bahwa penyebab utama terjadinya kabut tebal adalah terjadinya kebakaran hutan, namun munculnya tagar #RiauDibakarBukanTerbakar membuat kita semua berpikir ulang. Beberapa tahun lalu juga sempat terjadi pembakaran hutan dengan sengaja di Sumatera yang bahkan dampaknya melebar hingga ke kota-kota lain.

Gabungan petugas yang mencoba memadamkan hutan yang mengalami kebakaran (Foto oleh Liputan6) via www.liputan6.com

Laporan dari CNN menyebutkan bahwa dengan menaikkan status kasus ini menjadi darurat bencana asap karhutla merupakan langkah yang tepat agar pemerintah bisa lebih serius untuk menangani persoalan kabut asap yang terjadi.

Ternyata, tak hanya Riau aja lo yang saat ini bertahan dengan udara yang tingkat pencemarannya sudah benar-benar di luar nalar. Bahkan, Kalimantan yang juga merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia tersebut mengalami hal yang sama. Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita semua mengapa hal seperti ini bisa terus terjadi.

Dilansir dari berbagai media, asap pekat yang terjadi di Riau ini mulai muncul pada akhir Juli lalu dan terus parah hingga sampai saat ini. Alat pengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terpasang di beberapa daerah pun menunjukkan kategori udara berbahaya untuk dihirup.

Unggahan foto di salah satu sudut kota Riau oleh warganet Sony Andrio Ranhas

Pemadaman api di areal hutan yang terbakar via www.bbc.com

Meski pemberitaan yang beredar di media sosial memang tak sesanter dengan apa yang tengah terjadi di Riau, namun bencana asap di Kalimantan ini juga tak kalah parah. Potret seorang pengendara motor yang terjebak di dalam pekatnya asap tersebut menunjukkan bagaimana minimnya jarak pandang.

Jembatan Siak yang terlihat kurang jelas karena asap via twitter.com

Kebakaran hutan menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya bencana asap di Kalimantan. Jika kejadian-kejadian seperti ini terus dibiarkan dan tak mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak terkait, tak menutup kemungkinan bahwa Indonesia menjadi penyumbang udara buruk bagi ekosistem bumi. Apalagi mengingat sampai saat ini dampak pemanasan global yang terjadi dari waktu ke waktu terus meningkat di berbagai negara. Jangan sampai deh anak cucu kita nanti terpaksa melihat bentuk nyata hutan hanya melalui foto atau cerita-cerita kita.

Seorang penjual koran nampak memakai masker untuk berlindung dari pencemaran udara via twitter.com

Tak cuma berada di dalam kota, bahkan foto yang diambil melalui pesawat di atas Kota Riau ini pun menunjukkan bagaimana parahnya keadaan tersebut. Melalui pantauan BMKG Stasiun Pekanbaru, di Riau sendiri terpantau ada 279 titik panas.

Laporan dari Jawa Pos menyebutkan bahwa salah satu yang terkena dampak akibat asap pekat tersebut adalah para pelajar. Mereka terpaksa harus mengenakan masker saat dimulainya jam belajar mengajar, bahkan tak jarang para orang tua yang kemudian mengantarkan anaknya menuju ke sekolah karena khawatir.

Kita semua tahu, pembakaran hutan dan lahan secara sengaja untuk kepentingan tertentu tak hanya sekali dua kali terjadi. Publik pun menilai bahwa pemerintah kurang tegas untuk menangani kasus-kasus seperti ini. Lalu apa harus menunggu seluruh masyarakat Sumatera meninggalkan daerahnya untuk membuktikan seberapa bahayanya dampak pembakaran hutan?

Kejadian yang terjadi di Kalimantan ini seharusnya menjadi pukulan telak bagi pemerintah Indonesia dan juga masyarakat sendiri untuk sadar bagaimana pentingnya peran hutan bagi kehidupan manusia. Bahkan, melebarnya dampak asap pekat hingga ke perbatasan Malaysia ini tak hanya terjadi satu kali ini saja.