Mungkinkah Indonesia Mengembangkan Energi Nuklir? Halaman 「American Gaming Network」2

  • 时间:
  • 浏览:0

IAmerican Gaming Networkamerican Gaming Networka pun berharap agar PreAmerican Gaming Networksiden Joko Widodo berkomitmen untuk mengembangkan nuklir sebagai pembangkit listrik, dengan mengubah peraturan yang menempatkan nuklir sebagai alternatif terakhir, menjadi energi prioritas.

Ia menjelaskan, energi fosil pada bauran energi pembangkit listrik hingga akhir 2020 masih sebesar 87,85 persen, sebanyak 57,22 persen di antaranya didominasi oleh batu bara.

Namun, kapasitas pembangkit listrik tetap EBT masih kecil.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Menurutnya, PLN sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan EBT dalam bauran energi sesuai target yang ditetapkan, seperti penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Baca juga: Ilmuwan China Gunakan Teknologi Nuklir untuk Membasmi Nyamuk

Sementara itu, Energi Baru Terbarukan (EBT) hanya 12,16 persen, jauh dari target yang ditetapkan pada 2025 sebesar 23 persen dan 31 persen pada 2050.

Menurut Fahmy, teknologi terbaru reaktor nuklir kini telah mengikis kekhawatiran akan terjadinya kecelakaan, bahkan bisa mencapai zero accident.

Namun, belum ada pemerintahan yang memiliki political will untuk melakukan itu setelah Presiden Habibie.

Fahmy menuturkan, kurangnya pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kemungkinan disebabkan oleh adanya resistensi dari kalangan bisnis yang selama ini memasok energi primer pembangkit listrik.

"Tanpa ada upaya terobosan, PLN diproyeksikan tidak akan dapat mencapai 100 persen EBT yang dipersyaratkan untuk mencapai zero carbon pada 2050," ujarnya.

"Saya menduga ada resistensi juga dari kalangan bisnis yang selama ini memasok energi primer untuk pembangkit listrik. Pasalnya, energi nuklir akan menjadi pesaing utama," jelas dia.

Baca juga: Benarkah Kecoa Bisa Selamat dari Nuklir?